Apa Itu Wahabi ? Pembahasan dan Fakta Sebenarnya

apa itu wahabi
muslim.or.idapa 

Banyak orang yang menjuluki “Wahabi” kepada orang yang melanggar kepercayaan, tradisi, dan perkara-perkara baru dalam beribadah, meskipun apa yang mereka percaya itu bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits sahih. Mereka sangat keras mengahdang dakwah tauhid.

Pengertian Wahabi

Para musuh tauhid memberikan julukan wahabi kepada orang yang senantiasa mengesakan Allah, dan nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab.

Siapa Muhammad bin Abdul Wahab

Muhammad bin Abdul Wahab lahir di kota Uyainah, najed tahun 1115. Beliau hafal Al Qur’an ketika usianya belum menginjak 10 tahun. Belajar fiqih kepada sang ayah mengenai fiqih Hambali, belajar tafsir dan hadits kepada syaikh-syaikh di berbagai negeri, utamanya di Madinah Pemahaman beliau sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shalalahu’alaihiwasalam. Beliau merasa tersentak ketika melihat di negerinya yaitu Najed dan juga negeri lainnya yang pernah beliau kunjungi adanya kesyirikan, khurafat, dan perkara yang di ada-adakan dalam beribadah. Seperti menyucikan dan mengkultuskan kuburan yang merupakan suatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Di Hejaz, beliau melihat pengkultusan pada kuburan sahabat, kuburan keluarga Nabi, dan Kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal itu seharunya tidak boleh dikerjakan kecuali hanya kepada Allah saja.

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab mengajak kaumnya untuk bertauhid dan senantiasa berdo’a hanya kepada Allah, karena Allah lah yang memiliki kuasa dan Yang Maha Menjadikan, sedangkan selain Allah itu ialah lemah dan tidak kuasa menolak mara bahaya dari dirinya dan orang lain. Adapun mencintai orang-orang salih atau mahabbah ialah dengan cara mengikuti amal-amal salihnya, tidak menjadikannya sebagai perantara antara manusia dan Allah, apalagi menjadi temapt memohon selain Allah.

Orang Batil Menentang Kepadanya

Orang-orang yang mengamalkan ajaran yang tidak ada contohnya dari Nabi sangat menentang keras dakwah tauhid yang dibawa oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Tidak heran, karena musuh-musuh tauhid sudah ada pada zaman Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam.

Musuh-musuh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memulai perbuatan yang tercelanya dengan cara memerangi dan menyebarkan berita hoax atau bohong tentang dirinya. Sampai-sampai mereka bekerjasama untuk membunuh dengan tujuan supaya dakwah yang beliau sampaikan terputus dan tidak berlanjut. Tapi Allah menjaga beliau dan memberikan pertolongan, sampai dakwah tauhid tersebar di Hejaz, dan juga di berbagai negara Islam lain.

Meski begitu, sampai hari ini, masih ada saja sebagian orang yang menyebar berita bohong. Seperti mengatakan bahwasanya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab merupakan pembuat madzhab yang kelima, sedangkan dalam realitanya beliau adalah penganut madzhab Hambali. Ada juga yang mengatakan orang Wahabi tak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan tak bersholawat kepadanya. Mereka semua anti bacaan sholawat.

Sedangkan realitanya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah sudah menulis kitab dengan judul “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam
“. Ini merupakan kitab yang membuktikan kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasullullah Shalallaahu alaihi wasalam. Mereka banyak yang mengada-ngada dengan cerita dusta mengenai Syeikh. Seandainya saja mereka memperlajari kitab-kitab karangan beliau dengan hati yang tidak ada kebencian tentunya dan sadar, pastinya mereka akan menemukan Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat untuk rujukannya.

Ada cerita seorang ulama yang memberikan peringatan di dalam pengajiannya supaya mewaspadai ajaran wahabi. Pada suatu hari, seorang hadirin memberikan kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelumnya kitab itu dia hilangkan dulu nama pengarangnya. Ulama tersebut pun membaca kitab itu dan sangat kagum dengan kandungan yang ada di dalam kitab tersebut. Lalu sesudah tahu penulisnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab , ia pun mulai memuji Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Sebuah hadits disebutkan :

fitnah wahabi
almanhaj.co.id

Ibnu Hajar Al-Asqalani beserta para ulama lain menyebutkan, maksud dari Nejed di dalam hadits di atas merupakan Nejed Iraq, Terbukti dengan adanya banyak fitnah yang terjadi di sana. Kota dimana Al Husain bin Ali Radhiyallah anhuma dibunuh.

Berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwasannya maksud dari Najed adalah Hejaz, kota dimana tidak tampak ditnah di dalamnya seperti yang terjadi di Iraq. Sebaliknya yang nampak dari Nejed Hejaz merupakan tauhid.

Sebagian Ulama Yang Adil Menyebutkan Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Salah Seorang Pembaharu (Mujaddid) Pada Abad 12H.

Salah satu orang yang menulis buku mengenai Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syaikh Ali Thanthawi. Dimana beliau menulis buku “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah”, diantara tokoh-tokoh itu ada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin Irfan.

Di dalam buku itu beliau menyebut, akidah tauhid bisa sampai ke India dan negeri lainnya lewat para jamaah haji dan kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Sebab itu, pemerintah yang waktu itu menjajah India, bersama-sama musuh Islam berperang dengan akidah tersebut.

Hal itu bisa terjadi karena mereka tahu bahwa akidah tauhid bisa menyatukan umat Islam untuk melawan mereka. Lalu pemerintahan Inggris memberi perintah kepada kaum Murtaziqah supaya mencemarkan nama baik dakwah tauhid. Maka mereka menuduh semua muwahhid yang berseru kepada tauhid dengan perkataan Wahabi. Kata itu mereka maksudkan untuk padanan dari mengerjakan perkara baru dalam agama, yang menyebabkan terpalingnya umat Islam dari akidah tauhid dimana hanya berdoa kepada Allah.

Orang-orang itu tak mengerti bahwasannya kata wahabi merupakan nisbat kepada Al Wahhaab artinya yang Maha Pemberi, yang merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang terbaik (Asmaul Husna) yang memberikan kepadanya tahuhid dan dijanjikan Surga

Sumber : https://almanhaj.or.id/1780-pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-abdul-wahhab.html

Referensi lain:

Wahhabi Antara Dogma Dan Fakta

Seputar Kata Wahabi

Advertisements

Kommen