GAGAP EKONOMI

menteri dagelan picture
indonesiabaik.id

Sekarang kita bahas “isi” nya pikiran para menteri. Saya tahu saat ini para menteri itu adalah orang yang di didik oleh generasi “cold war” perang dingin dan mereka semua adalah generasi baby boomer.

Saya merasa mereka para menteri yang beda 4 generasi dengan rakyat indonesia kebanyakan ( gen X, gen Y & gen milenium) akan terus gamang dan gelagepan dengan cepatnya ekonomi dunia berjalan.

Dunia saat ini sudah membicarakan ” behavioral economic approach ” sementara kita masih ngomongin ” mass industry ” yang beraliran economi mainstream lama, yang ilmu lama walau di ajarkan di kampus-kampus ternama 20-30 tahun yang lalu.

Bukan ilmu ekonomi yang sekarang, bukan keilmuan bisnis dan keilmuan ekonomi yang berlaku di bisnis yang tumbuh di tahun 2000 an generasi melinium. Seperti google, yahoo, instagram, uber, go jek. Itu semua belum ada 15 tahun usianya.

Bayangkan betapa naifnya para menetri sekarang yang tidak faham ilmu ekomomi dunia baru yang bergerak dengan cepat.

Contoh behaviorial economic yang sedang di amati dengan ketat oleh banyak ekonom dunia adalah perubahnya perilaku bisnis, dari misalnya dunia transportasi taxi menjadi own U company ala Uber. Membuat pebisnis transportasi banyak yang gulung tikar karena berubahnya bentuk bisnis yang cepat.

Misalnya pebisnis taxi Blue Bird yang dalam masa jayanya tahun lalu 2015 bisa memiliki 25.000 supir dan armada taxi saat ini hanya 15.000 orang saja dan terus bergerak turun. Sementara mereka yang hidup dari sharing car bisnis naik tajam. Di China, Hongkong, dan Taiwan, Didi Chuadi memiliki 150 juta car sharing driver/owner.

Yang tadinya hanya supir taxi sekarang owner mobil berbasis teknologi U Corporation. yang tadinya pengusa taxi yang makmur sekarang supirnya yang makmur.

Ini wacana bisnis yang sedang meningkat hampir di semua belahan bumi. Sementara di indonesia tidak ada yang memikirkan model bisnis dan strategi ekonomi bangsa Indonesia ke depannya. Ini belum ada yang mikir, apa belum nyampe otaknya, apa nggak peduli, saya nggak tahu juga sih. Sahabat mungkin lebih pandai menilai.

Seperti misalnya saya kemarin sore dimana saya sedang ada janji pertemuan sembari late lunch di bilangan mall di jakarta pusat. Ada booth salah satu car sharing company sedang promosi.

Di sebelahnya ngantre orang yang ingin mendaftarkan mobilnya dan di sisi lain ada meja-meja seperti sedang negosiasi atau interview, atau briefing.

Ada yang menarik perhatian saya, karena ada satu anak muda di antar kedua orang tuanya. Kira-kira dia mahasiswa. Mereka bertiga lama diskusi dengan si mbak petugas car sharing company yang tampaknya sedang membantu registrasi. yang tak lama kemudian sang pemuda menandatangani formulir.

Yang menjadi ketertarikan saya adalah kalimat dari sang ayah, selamat ya nak, selamat bekerja, yang rajin, mulai sekarang kamu cicil ya bulanan dari mobil itu, sempetin di sela kosong jam kuliah mu. di sebelah kanannya wanita dengan gaya mamah cantik tersebut terlihat bangga sekali dengan anak nya. Pemuda tadi tersipu.

Di kepala saya dengan sekilas pemandangan tadi menyimpulkan: anak tadi di belikan mobil impiannya, dengan depe, lalu memanfaatkan potensi waktu luangnya jadi driver car sharing bisnis.

Betapa cepatnya dan berubah dengan cepat roda ekonomi bergeser.

Yang saya sayangkan dan pikirkan juga adalah ini solusi ekonomi dan bisnis yang bagus ini kok perusahaan car sharingnya bukan perusahaan lokal ya, kok perusahaan asing. Pemerintah kemana? Pebisnis lokal kemana? Nggak faham ya? Gagap ya? # peace

Sumber: Mardigu Wowiek

Advertisements

Kommen