Nazhor – Antara Fisik dan Akhlak

Nazhor – Antara Fisik dan Akhlak

nazhor

Bismillaah

Pada dasarnya menikahi seseorang pastilah membutuhkan “trigger” yang membuat kecenderungan terhadap orang tersebut muncul sehingga yakinlah untuk bersanding hidup dengannya. Untuk mengetahui kondisi dan latar belakang seseorang dari sisi agama, keluarga, dan harta bisa didapatkan dari informasi yang didapat baik berupa proposal biodata atau info lisan. Adapun untuk memunculkan rasa ketertarikan terhadap calon pendamping maka Islam mengaturnya dengan begitu indah. Nazhor

Dasar hukum yang dipakai dalam “Nazhor” adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang Shahabiyun Jaliy bernama Jabir radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Apabila salah seorang kalian melamar seorang wanita, hendaklah dia memandang bagian tubuhnya yang akan menjadikannya tertarik untuk menikahinya, jika dia mampu melakukannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 99 dan Al-Irwa` no. 1791)

Dari hadits tersebut tidak bisa kita elakan bahwa nazhor itu memang disyariatkan guna menimbulkan rasa ketertarikan terhadap calon pendamping karena faktor fisik dalam pemilihan pendamping tidak bisa dinihilkan. Walaupun tetap tidak pantas untuk dijadikan prioritas utama.

Ada sebagian muslim yang ingin menikah tanpa melalui sesi nazhor dengan anggapan ingin menikahinya murni karena agama dan akhlak, perkataan seperti ini seolah sangat bijak tetapi yang perlu dicatat adalah nazhor bagian dari syariat Islam yang dianjurkan oleh Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam bagi yang ingin melamar, siapa yang menjalankannya berarti dia menghidupkan sunnah.

Tentang anjuran nazhor begitu jelas dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang mengisahkan seorang lelaki yang datang dan mengabarkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam bahwa dia telah melamar seorang wanita dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:

أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا

“Apakah engkau telah melihatnya?” Lelaki itu menjawab: “Belum.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Hendaklah engkau melihatnya terlebih dahulu karena pada mata wanita-wanita Anshar ada sesuatu.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa`i)

Kita tentu tidak lebih tahu tentang kemashlahatan dibanding Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam. Jangan sampai semangat yang membara justru membuat kita luput mengamalkan sunnahnya karena keberkahan mustahil akan dapat diraih kecuali dengan menjalankan syariat dan sunnah, semakin sering kita mengamalkan dan menghidupkan sunnah in syaa Allah semakin besar keberkahan yang akan kita dapatkan.

Dan di akhir pembahasan ini penulis bawakan fatwa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu terkait permasalahan nazhor yang dikutip dari Asy-Syarhul Mumti’ (5/125-126, cetakan Darul Atsar): “Yang benar dalam masalah ini hukumnya sunnah (karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya).

Semoga keberkahan selalu menghiasi kehidupan kita. Dengan sunnahlah kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Wallaahu A’lam. Allaahu yubaarik fiykum.

Abu Zaid, Lc